Oleh: ihsand3 | 26 November 2008

Bunga Edelweis

KATAKANLAH dengan bunga. Pepatah baheula yang sampai sekarang masih dipakai ini amat cocok untuk melukiskan betapa sekuntum bunga bisa menjadi sangat berarti dalam kehidupan manusia. Terutama bagi orang-orang yang sedang jatuh cinta.

Bunga dianggap bisa mewakili perasaan seseorang, baik suasana hati yang bahagia maupun kesedihan. Banyak bunga dijadikan ‘buah tangan’ dari seorang jejaka kepada gadis yang disayanginya. Mulai dari bunga mawar, melati sampai bunga Edelweis.

Bunga Edelweis (Anaphalis javanica) sering juga disebut bunga abadi karena kemampuannya bertahan berbulan-bulan tanpa mengalami kerusakan. Seringkali dijadikan amsal atau perumpamaan cinta abadi seseorang.

Edelweis termasuk dalam katagori bunga langka bahkan termasuk flora yang dilindungi. Jumlahnya yang tidak begitu banyak serta habitatnya (tempat tinggalnya, Red.) yang khusus tumbuh di ketinggian diatas 1500m dari permukaan laut–biasanya terdapat di daerah pegunungan– membuat bunga yang sangat indah dan mempunyai banyak warna ini banyak diminati.

Tinggi pohonnya hanya 1/2-1m. Warnanya pun beragam dari kuning, ungu, merah sampai hijau. Di Indonesia, umumnya terdapat di pulau Jawa dan Sumatera. Sayangnya tidak terdapat di Kalimantan, karena rata-rata di wilayah Kalimantan tidak terdapat gunung yang tingginya diatas 1500m, kecuali gunung Kinibalu yang masuk ke dalam negara bagian Sabah, Malaysia.


Karena keabadiannya dan keindahannya, banyak orang (khususnya pendaki gunung) mengoleksinya baik untuk disimpan pribadi maupun sebagi oleh-oleh bagi rekan. Karena termasuk flora yang dilindungi, edelweis dilarang untuk dipetik dari habitatnya di pegunungan. Herannya edelweis banyak dijual di pasaran.

Di Malioboro, Yogyakarta, edelweis dengan berbagai warna dijual dalam vas bunga dengan harga Rp5000 sampai Rp10.000. Sementara di kota Malang, edelweis dijual dengan harga Rp3000. Bagi yang tidak sanggup hiking (mendaki gunung, Red.), cukup membeli di pasaran sudah bisa mengoleksi.


Namun bagi Tony–salah seorang kolektor edelweis di Banjarmasin– ada perasaan yang berbeda jika bunga edelweis yang dikoleksi berasal dari gunung yang langsung dipetik sendiri dengan membeli di pasaran.

“Saat kita bersusah payah mendaki gunung kemudian menemukan dataran yang ditumbuhi oleh beribu bunga edelweis sangat menakjubkan. Selain itu kita mesti main kucing-kucingan dengan penjaga pos pendakian buat membawa edelweis keluar dari gunung,” ujar Tony.

Tony sendiri selalu menyempatkan untuk mengambil edelweis pada setiap pendakian gunung yang dilakukannya. Kurang lebih tujuh macam edelweis berhasil dikumpulkannya dari pendakiannya pada gunung-gunung di pulau Jawa dan Sumatera.


Namun menurut dia, meski dianggap bunga abadi, edelweis pada akhirnya bisa juga mengalami kerusakan. Tapi jangka waktunya cukup lama. “Untuk menyiasatinya agar tetap awet biasanya saya semprot dengan menggunakan cairan formalin. Lumayan juga lebih tahan beberapa bulan,” tandasnya. m royan naimi

– info yang terkait dengan artikel ini

Iklan

Responses

  1. benarkah bunga itu abadi?

    • sebenarnya tidak abadi. tapi memang lebih tahan lama. sekitar tahun 1995 hamparan bunga edelweis di puncak gunung sindoro tidak ada yg berbunga… berarti bunga edelweis tetap gugur untuk tumbuh menjadi generasi edelweis baru…

  2. mas q pngin beli bunga itu skarang boisa??

  3. pingin punya bunga ituuuuuh

  4. tahun 1994 dulu, aku penah lihat batang edelweis di puncak Gunung Slamet tingginya mencapai 3 m. malah kami sempat duduk di cabang batang bunga tersebut. di sekitar edelweis raksasa tersebut ada beberapa batang yg tingginya di atas 2 m (dekat pondok goa, jalur utara).
    terus di daerah dieng wonosobo, aku pernah liat ada yg jual bunga edelweis yg berasal dari penangkaran (sengaja di tanam di kebun). bedanya, bunga tampak lebih langsing dibanding yg tumbuh alami di puncak gunung.

    • Wonosobo dimna nya ya?

  5. mas belinya gimana?

  6. Ada kontak yg bisa dihub.i untuk order bunga edelweisnya gak??


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: